Matanya mulai terasa panas saat ia mengingatnya.
Senyumnya, tatapan matanya, serta perhatiannya, selalu
muncul dalam benak Reina. Padahal dengan susah payah Reina berusaha melupakan
semuanya. Tapi hasilnya nihil, semakin Reina melupakannya justru ia semakin
merindukannya. Rasa sesak selalu
memenuhi rongga dadanya ketika rindu itu tak terbalaskan. Sudah beberapa bulan
ini Reina tak menghubungi Rehan. Ia sengaja mengganti nomor
telfonnya dan memblokir Rehan dari akun facebooknya, karena ia tak mau Rehan
menghubunginya lagi. Ini adalah keputusannya sendiri, ia memilih pergi dari
kehidupan Rehan demi kebahagiaan cowok tersebut. karena baginya kehadiran
dirinya hanya membuat Rehan terluka. Ia ingin Rehan bahagia tanpa dirinya.
Reina mengusap air matanya yang mulai membasahi pipinya.
***
Reina dan Rehan adalah sepasang kekasih. Meskipun saat
ini mereka terpisahkan oleh jarak, tapi itu tak jadi masalah buat mereka.
Asalkan mereka saling percaya, jujur dan setia. Itu komitmen mereka.
Terkadang reina merasa iri saat melihat teman-temannya
berpasangan. Tapi reina tidak goyah dengan pendiriannya, dengan sabar ia
menunggu rehan. Rehan yang saat ini sudah semester 6.
Reina hanya menunggu waktu untuk menyatukan mereka
kembali. Apalagi saat ini adalah detik-detik UN bagi reina. Ia semakin
bersemangat menjalani hari-harinya. Karena ia sebentar lagi akan menjadi
mahasiswi. Dan ia sudah menentukan universitas mana yang akan ia masuki, yaitu
universitas yang sama dengan rehan. Ia akan menyusul rehan kesana.
Sudah beberapa bulan ini mereka tak bertemu. Membuat
keduanya terbelenggu dengan kerinduan. Apalagi rehan, ia begitu tersiksa jika
bayangan kekasihnya selalu muncul dalam benaknya. Seakan-akan ia ingin pergi
menemui reina saat itu juga, tapi ia sadar akan kesibukannya sebagai seorang
mahasiswa. Terpaksa ia juga sabar harus menunggu liburan.
***
Saat liburan tiba ternyata ada sesuatu yang membuat rehan
tidak bisa pulang, jadi ia meminta reina untuk menemuinya di malang. Dengan
senang hati reina mengiyakan permintaan rehan. Tapi, takdir berkata lain. Dua
hari sebelum keberangkatan reina, ibunya jatuh sakit. Dengan berat hat reina
menggagalkan keberangkatannya. Reina bersusah payah menjelaskan kepada rehan.
Tapi karena keegoisan rehan, ia tetep tidak mau mengerti reina. Rehan mengira
bahwa itu hanya alasan reina. Rehan merasa dibohongi. Karena merasa kecewa
kepada reina, akhirnya rehan pergi bersenang-senang dengan perempuan lain.
Rehan tak memikirkan perasaan reina, ia hanya ingin membalas sakit hatinya itu.
Tetapi, reina tak tau yang dilakukan oleh rehan. Reina berfikir rehan akan
segera memaafkannya.
Saat reina iseng membuka akun facebooknya, alangkah
terkejutnya reina ketika melihat rehan mengunggah fotonya dengan perempuan
lain. Rehan merangkul perempuan tersebut, dan mereka sama-sama tertawa bahagia.
Rasa sesak memenuhi rongga dada reina. Dengan sekuat tenanga ia menahan air
matanya. Tapi apa daya, saat mulut tak mampu berkata hanya air mata yang mampu
menjelaskannya, dan ia mulai terisak.
|
Reina tak menyangka rehan seperti itu,
padahal selama ini ia tak pernah dekat-dekat dengan pria lain, apalagi
berduaan. Dengan cepat reina mengirim sms kepada rehan.
|
Reina berharap rehan segera membalas
pesannya. Ia berharap rehan menjelaskan semuanya, karena ia takut salah paham.
Dan tak lama kemudian rehan membalasnya.
Air mata reina semakin deras membanjiri pipinya. Ia
kecewa dengan jawaban rehan. Ia tak mengerti kenapa rehan menyalahkan dirinya.
Padahal jelas-jelas reina tak bisa berangkat karena ibunya sakit. Tapi rehan
malah menyangkalnya, ia tak mau mengerti, dan ia hanya menyebutnya itu sebagai
ALASAN.
Rehan adalah orang paling egois yang pernah reina kenal,
tapi dia juga orang yang membuat reina jatuh cinta. Memang cinta adalah misteri
yang datang kapan saja dan kesiapa saja.
Reina memilih diam, karena ia tak tak tau apa yang harus
dilakukannya. Percuma menjelaskan semuanya, karena rehan tetap tak bisa
mengerti.
Hari demi hari berlalu, dan reinapun memaafkan kehilafan
rehan. Sekarang mereka sudah baikan.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar